CRISIS IS MY POWER

CRISIS IS MY POWER



Penulis : Anthony Dio Marton, Motivator

Di awal JAnuari 1965, seorang psikolog Martin Seligman, nekat melakuakn eksperimen yang cukup berpengaruh bagi dunia kesehatan mental. Bersama rekannya, ia mengondisikan tiga ekor anjing. Anjing-anjing itu kemudian disetrum.

Anjing pertama dikondisikan bahwa ia bisa menghentikan aliran listrik dengan sentuhan hidungnya. Anjing kedua belajar bahwa tak ada satupun yang bisa dilakukannya. Sedangkan anjing ketiga tidak diberikan setruman apa pun.

Lantas, percobaan dilanjutkan dengan menaruh ketiga anjing itu di kotak yang terpisah oleh penghalang rendah. Di kotak itu, satu sisinya terdapat setruman listrik dan di sisi lainnya, aman. Lalu, tibalah saatnya ketika semua anjing ditaruh di bagian beraliran listrik.

Merasa Kalah

Apa yang terjadi ? Dalam hitungan detik, anjing pertama dan ketiga segera belajar untuk meloncat ke bagian kotak yang aman. Namun apa yang terjadi dengan anjing nomor dua ? Ternyata anjing itu tetap membiarkannya dirinya disetrum listrik tanpa melakukan usaha apa pun.

Kejadian menarik ini lantas ditulis di Journal of Experimental Psychology. Berdasarkan ilmu psikologi perilaku, tidak pernah terbayangkan bahwa  binatang seperti anjing bisa belajar untuk membiarkan dirinya disetrum karena merasa tak berdaya. Inilah yang akhirnya yang melatarbelakangi suatu pemikiran besar soal perilaku ketidakberdayaan, yang dikenal dengan istilah Learn Helpessness.

Perilaku helpnessness anjing tersebut  kemudian dipakai untuk menjelaskan apa yang kita  lihat dalam kehidupan sehari-hari. Anjing nomor dua tersebut  merasa tidak berdaya dan kehilangan "minatnya"-nya untuk berusaha. Mungkin dalam pikirannya adalah "semua dunia ini penuh aliran listrik, percuma saya pergi ke mana pun, hasilnya akan sama."
Gejala-gejala di atas memang terbukti pada anjing. Namun tidakkah kita merasa sering melihat perilaku seperti itu di sekitar kita ?

Terbukti, banyak orang kehilangan daya juangnya karena berada dalam situasi krisis dan stres terus-menerus, setelah beberapa lama. Bagi mereka, percuma melakukan apa pun, karena tidak akan bisa diperbaiki lagi situasinya. Mereka pun merasa kalah, lalu mengambil tindakan nekat. Misalkan, mungkin Anda pernah membaca, di awal bulan Januari 2009, seorang pria  di Jakarta bunuh diri dengan minum cairan serangga di hotel  lantaran harga sahamnya anjlok akibat krisis. Di sampingnya terdapat  tulisan,"Saya kalah main di lantai bursa. Mereka itu kejam-kejam."

Tata Emosi

Sementara itu, di tempat lain, kita melihat masih  banyak pengusaha yang mengalami kegagalan dan kekalahan lebih banyak, tetapi mereka tetap tegar dan bersemangat untuk menjalankan bisnisnya. Di sinilah sebenarnya kita melihat perbedaan  antara mereka yang cerdas emosinya dengan yang tidak, dalam menghadapi krisis finansial.

Orang yang tidak cerdas emosinya, membiarkan dirinya tidak berdaya (helpless) dan berbagai emosi negatif  menguasai diri mereka. Sedangkan mereka yang cerdas emosinya, menyadari bahwa krisis dan masalah tidak perlu ditakutkan. Mereka tidak membiarkan diri mereka tak berdaya. Mereka justru memilih untuk tetap menguasain emosinya dan menggunakan tenaga pendorong untuk berpikir kreatif, berusaha lebih keras, memperluas networking, dan berbagai usaha lainnya.

Saya teringat kisah Sirivat Voravetvutikhun, seorang pengusaha real estate asal thailand yang pada masa krisis moneter 1997 sampai nekat jualan sandwich di jalan. Tatkala ditanya  soal langkah beraninya, ia menjawab, "Saya lahir sebagai orang miskin. Maka visi saya adalah menjadi orang sukses dan saya bekerja keras untuk berhasil. Dan terpenting, dalam masa krisis di Thailand ini, saya berusaha mengatasi rasa maku, gengsi, dan takut. Itulah musuh terbesar saya. Setiap hari bangun, saya membayangkan bahagianya saya ketika  saya sukses  dulu. Itu memberikan  saya semangat luar biasa."

Bagaimana dengan kita ? Bagaimana kita menghadapi krisis yang ada di depan mata ? Kita bisa memilih untuk berjuang dan terus mencari terobosan baru. Atau, kita pun bisa menjadi seperti  anjing dalam eksperimen Seligman, yang hanya meratap, merintih, dan mengeluh. Yang jelas, marilah kita menata emosi lebih baik, supaya tidak disamakan dengan seekor anjing.

STILL LIVE, KEEP FIGHTING


No comments:

Post a Comment

PENGIRIMAN

CARA ORDER